Buya Hamka Masuk Penjara? Simak Cerita Nya!

Buya Hamka adalah tokoh ulama sekaligus pejuang nasional Indonesia, yang berlatar belakang penuh dengan kepahitan serta perjuangan. Namun demikian, dia tetap lembut hati kepada musuh meski sesakit apapun yang di timpakan kepadanya.

Berikut ini perjalananya Hamka, mulai dari latar belakang, bagaimana selama di kurung, maupun prestasi serta karya penginggalanya. silakan di simak ya. Kalaupun ada yang salah, kami mohon maaf atas kekurangan data kami. terimakasih…

1. Latar Belakang Biografi Buya Hamka

biografi
Tempat Kelahiran Buya Hamka Sekaligus Museum

Nama lengkap buya hamka adalah Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di Nagari Sungai Batang,  Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada tanggal 17 Februari 1908, bilau wafat di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 72 tahun.

Beliau adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Semasa hidup nya menajali propesi sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Beliau terjun dalam dunia politik melalui partai masyumi sampai partai tersebut di bubarkan, beliau juga pernah menjabat sebagai ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Beliau mendapatkan penghargaan dari beberapa kampus :

  • Universitas AL- Azhar dan Universitas Nasional Malaysia Menganugrahkan gelar doctor kehormatan.
  • Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan beliau sebagai guru besar.
  • Namanya juga di sematkan sebagai kampus milik Muhammadiyah yang bernama Universitas Hamka.
  • Buya Hamka juga terdaftar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Baca juga : Management Persiapan Meyambut Bulan Suci Ramadhan Tahun Ini

2. Riwayat Pendidikan Beliau

perjuangan
Biografi Buya Hamka

Ia Sekolah Dasar di  Maninjau hanya sampai kelas 2. Sampai di usia nya 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Disini juga beliau mulai mempelajari agama dan mendalami Bahasa Arab. Selain itu beliau juga mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal mulai dari Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Sejak Mjuda, Beliau dikenal sebagai seorang pengelana atau anak rantauan. Sampai-sampai ayahnya memberi gelar Si Bujang Jauh. Selanjutnya Pada usia 16 ia merantau ke Jawauntuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada H. Oemar Said Tjokroaminoto, dan K.H Fakhrudin. Beliau juga mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualam, Yogyakarta.

Baca juga : Generasi Millenial Harus Tahu Fungsi Belajar Bersama

3. Biografi Keluarga Buya Hamka

Buya Hamka menikahi Sitti Raham pada tanggal 5 April 1929, beliau menjadi ayah dari 12 anak, dan dua diantara mereka ada yang meninggal saat balita. Di bulan Mei 2013, memiliki 31 cucu dan 44 Cicit. Saat menikah dengan isitri nya, berusia 21 tahun, sedangkan Rahmah masih berusia 15 tahun. Istrinya adalah anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Istrinya meniggal pada tanggal 1 Januari 1972, Ia menikahi Sitti Khadijah asal Cirebon pada Agustus 1973.

Pada buku yang berjudul Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr. Hamka. Selaku penulisnya Rusydi Hamka menceritakan keluarganya melewati masa-masa kemiskinan.

“Kami hidup dalam suasanaa miskin. Sembahyang saja terpaksa beerganti-ganti. Karena rumah hanya ada sehelai kain.”

Demikian tulis Rusydi Hamka, selain itu sebagai seorang mamak dalam hubungan kekerabatan masyarakat Minang. Pada saat bersmaan mengurus kemenakan dan saudara perempuannya. Anak pertama  bernama Hisyam meninggal dalam usia lima tahun. Anak ketiga Rusydi dilahirkan di kamar asrama, Namanya Kulliyatul Mubalighin, Padang Panjang tahun 1935.

Beliau berbeda dengan pri keturunan Minang yang pandai berdagang. Hamka tidak mewarisi bakat berbisnis. Di tengah kondisi kekurangan, hamka memilih bekerja di medan untuk Pedoman Masyarakat tahun 1936.

Baca juga : Rahasia Membangun Keluarga Harmonis Agar Bahagia Dunia dan Akhirat

4. Sosok Buya Hamka Terhadap Sejarah Indonesia

sejarah
Ulama di Nusantara dari Sumatera Barat.

Sebagai ulama, ia adalah ketua MUI pertama. Selain di bidang politik, ia terjun dalam Partai Masyumi dan akhirnya di bubarkan oleh Presiden Soekarno karena berseberangan sikap politik. Sedangkan di bidang ormas, tercatat juga sebagai pengurus aktif Muhammadiyah. 

Cerita konflik antara beliau dengan Presiden Soekarno adalah ketika Buya Hamka tidak sepakat dengan diterapkan nya system Demokrasi Terpimpin. Sehinga membuat Presiden Soekarno memenjarakan Buya Hamka pada tahun 1964 sampai 1966.

Akan tetapi yang membuat dunia menjadi bingung, di mana Presiden Soekarno sudah memenjarakan selama 2 tahun, namun di akhir hayat Presiden Soekarno supaya Buya Hamka untuk menjadi Imam Shalat Jenaza Nya adalah Buya Hamka. Dengan jiwa luhur dan pemaafnya, beliau memenuhi wasiat Presiden Soekarno.

“Begitu lembut hati Buya Hamka, Meski sudah di tangkap tanpa proses. Beliau tetap memberikan yang terbaik.”

Sebuah keteladanan yang patut di contoh.

Simak juga : Bagaimana Menentukan Penghasilan Ketika Masih Remaja

6. Karya dan Penghargaan

pejuang
Kumpulan Karya Sastra, Sejarah, dan Tafsir Al-Azhar

Banyak sekali karya-karya Buya Hamka, beliau juga tercatat juga sebagai penulis Islam paling prolifik dalam sejarah modern Indonesia. Karnya selalu mengalami cetak ulang berkali-kali, selain itu buku nya menjadi bahan kajian oleh peneliti di Indonesia. Tulisan nya selalu exsis di berbagai macam majalah maupun surat kabar.

Yunan Nasution mencatat, dalam jarak waktu yang di perkirakan selama 57 tahun, Buya Hamka melahirkan 87 judul buku. Diantara karya nya adalah DI Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal vander Wiick,  dan Merantau ke Deli yang terbit di Medan melambungkan nama Buya Hamka sebagai sastrawan.

Karya nya bermula dari cerita bersambung yang diterbitkan pada majalah dan surat kabar. Selain itu hamka juga meninggalkan karya nya di bidang sejarah, budaya, dan bidang-bidang kajian Islam.

Walalupun buya hamka tidak menyelesaikan Pendidikan yang formal, Buya Hamka memiliki akses kelimuan yang banyak. Sebagai mana dalam tulisan Filolog Perancis Gerard Moussay, bahwasanya Buya Hamka dengan hanya bermodalkan Pendidikan paling dasar terlah berhasil dengan cara nya sendiri memperoleh pengetahuan yang maju dan unggul dalam bidang yang berbeda-beda, seperti jurnalistik, sejarah, antropologi, politik, dan Islamolog.

Namun dari pandangan K.H Abdurrahman, bahwa “Ia cenderung mengambil kesimpulan yang sudah ada dari para pemikir besar dengan cara menyederhanakannya, dan kadang-kadang salah. Begitulah menurut kedua tokoh dari negara Perancis dan Ulama Indoensia sendiri.

Untuk mendalami karya Buya Hamka, ada beberapa bidang yang sangat menonjol dalam karya nya diantara Sastra, Sejarah, dan Tafsir Al – Azhar ;

Simak juga : Ini Kriteria Pemimpin Yang Harusnya Menjadi Presiden Indonesia

7. Karya Buya Hamka Dalam Bidang Sastra

Secara umum karya nya dalam hal ini banyak bertema gugatan terhadap adat Minang Kabau, missal nya nikah paksa dan hubungan kekerabatan yang menurut pandangan beliau tidak cocok dengan cita-cita masyarakat Indoensia modern. Dalam karya buku nya Di Bawah Lindungan Ka’bah, Buya Hamka menggugat penggolongan berdasarkan harta, pangkat, dan keturunan oleh masyarakat Minang Kabau. Sebab menurut Buya Hamka, adat Minang kabau bertentangan dengan agama Islam yang memandang kedudukan manusia sama di hadapan Allah. 

Selanjut nya dalam karya nya yang berjudul Tuan Direktur, Hamka menyindir tokoh Jazuli sebagai kebanyakan orang Melayu yang kerap berburu nafsu sehingga mengabaikan nilai-nilai Fundamental.

Selain itu dalam karyanya yang berjudul Merantau ke Deli, Buya Hamka menginginkan perubahan penilaian masyarakat Minang Kabau tentang keberhasilan merantau dan mengkritik penilaian adat tentang pernikahan yang baik dari satu daerah saja. Karena pada kenyataanya,harta bukan jaminan kehidupan menjadi bahagia, begitu pula asal daerah bukanlah jaminan pernikahan akan bertahan lama.

Di akhir tahun 1930-an, buku-buku buya hamka telah hadir di perpustakaan sekolah umum. Sehingga para pelajar bisa  sering membaca. Karya Novel nya juga naik daun dan menghasilkan pundi-pundi kesuksesan komersial dan berkali-kali cetak ulang.

Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah di angkat di layar lebar pada tahun 1981 dan 2011. Pada tahun 2013, Novel tenggelamnya Kapal Van Der Wijck untuk kali pertama difilmkan.

Buya Hamka sempat dikecam karena di anggap tidak pantas menulis kisah percintaan. Salah satu tokoh HB Jassin melihat kritikan terhadap Buya Hamka diantara nya disebabkan hukum yang menetapkan menulis karya sastra adalah salah satu dosa dan haram. Namun dalam tulisan nya di majalah Pedoman Masyarakat menegskan menulis kasya sastra bukanlah saut dosa, selain menjelaskan kegiatan menulis boleh menjadi satu dakwah.

Adapun HB Jassin mengutip pernyataan Buya Hamka. “Seni ata sastra Islam mestilah merangkumi keindahan dan kebenaran.” Menurut Buya Hamka keindahan, kebenaran dan kebaiakan itu jelas kembali semula kepada Tuhan.

Sedangkan dari sudut sastra, ada beberapa kritikus menganggap karya-karya Buya Hamka tidak istimewa. Salah satunya kritikus sastra Indonesia yang berpendidikan di Belanda A. Teeuw menilai, bahwa Buya Hamka tidak dapat dianggap sebagai pengarang besar karena karyawanya mempunyai psikologi yang lemah dan terlalu moralistik.

Namun peminat karya sastra Buya Hamka banyak sekali, bahkan sering di cetak ulang. Kritik Ini sangat bertolak belakang dengan fakta, karena pada dasarnya sastra adalah Bahasa yang disampaikan melalui tulisan dengan mengandung pesan moral yang mendalam terhadap pembacanya dan menjadi suatu pengalaman imajinasi namun benar-benar terjadi dalam dunia nyata.

Simak juga : Bikin Hidup Tanpa Beban Dengan Tips Jitu Mood Booster Ketika Bad Mood

8. Karya Buya Hamka Dalam Bidang Sejarah

Dalam sejarah umat Islam,  Buya Hamka menulis tentang sejarah Islam dengan sistematika periode berkuasa kerajaan. Beliau menekankan peranan raja dan kerajaanya yang pernha menguasai Nusantara. Menurutnya, Islam di Indonesia berhubungan dengan Arab lebih dulu dari pada India.

Salah satu bukti nyata adalah ditemukannya perkampungan Arab pada 674 M di pantai Barat Sumatera dan kerajaan kalingga pada masa Ratu Shima, yang mana kedua sumber ini didapatkan oleh Buya Hamka dari berita kerajaan Tiongkok.

Salah satu sejarawan Gusti Anan mencatat, bahwa Buya Hamka telah menemukan sumber-sumber lama yang sebelumnya tidak pernah digunakan penulis pada zamannya. Gusti Anan juga menilai bahwa Buya Hamka memberikan informasi yang sangat bernilai mengenai sumber-sumber yang dipergunakannya seperti Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang, Hikayat Raja-raja Pasai karya Nuruddin Al-Raniri, Tuhfat Ali Haji, Sejarah Cirebon dan Abad Giyanti.

Melalui perbendaharaan lama, Buya Hamka menunjukkan penguasaannya tentang warisan, atsar, jejak, dan petuah yang di wariskan tokoh-tokoh Nusantara. Beliau menguraikan tentang sejarah kebangkitan Islam di Minang Kabau secara khusus dalam karyanya Ayahku, biografi Abdul Karim Amrullah.

Buya Hamka mempunyai metode tersendiri dalam memaparkan penelitiannya dalam bidang sejarah. Beliau memprioritaskan sikap kritis dalam mempelajari tulisan-tulisan sejarawan Belanda tentang Indonesia. Menurut Buya Hamka, para sejarawan Belanda telah meberikan andil besar dalam banyak data, tetapi tetap perlu kritis menerimanya. Dengan motode kritis dan analisisnya, Buya Hamka berani menkontruksi sejarah dengan argumentasi dan dalil yang kuat.

Buya Hamka tidak sekedar mengulang-ulang catatan sejarah yang ada dalam literatur-literatur buku ketika berbicara maupun menulis tentang sejarah.

Salah satunya ketika beliau memandang sosok Gajah Mada, bahwa tak ubahnya seperti “penjajah” yang “…menjarah, menjajah sampai ke mana-mana.”

Buya Hamka juga memiliki daya baca yang kuat, beliau berjuang keras mengkritisi dan berusaha mengyingkirkan teks-teks beraroma dongeng yang selalu dijumpai dalam teks-teks klasik. Dalam karyanya yang berjudul Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao tentang riwayat hidup Tuangku Rao dan Sejarah Perang Padri, Buya Hamka meberi komentar tentang penulisan sejarah. Beliau berpendapat perlu membedakan antara khayal dan Fakta.

Simak juga : Contoh Puisi Inspiratif Tentang Kelaparan Yang Simpel

9. Karya Buya Hamka Dalam Bidang Tafsir Al-Azhar

Karya yang dianggap menumental oleh para penulis adalah tafsir Al-Azhar, sebagaimana dalam tulisan K.H Abdurrahman Wahid bahwa Buya Hamka mendemonstrasikan keluasan pengetahuannya di hampir semua disiplin yang mencakup oleh bidang ilmu-ilmu agama Islam serta pengetahuan non-keagamaan yang kaya akan informasi. Selanjutnya peneliti dari Negara Malaysia Norbani Ismail mengatakan, bahwa Tafsir Al-Azhar adalah tafsir pertama yang ditulis secara komprehensif dalam Bahasa Indonesia.

Selain itu Usep Taufik Hidayat dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menyebut keunikan Tfasir Al-Azhar adalah kemampuan berelasi terhadap isu-isu kontemporer, terutama kepada budaya masyarakat khsusnya budaya Melayu dan Minang Kabau. Buya Hamka melakukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi kontemporer yang dihubungkan dengan berbagai lapisan masyarakat.

Serta Buya hamka mengutip berpuluh-puluh kitap karangan sarjana-sarjana Barat dan sesuai dengan terhadap pendekatan berbagai ilmu yang ada korelasinya dengan penafsiran, terutama sains. Menurut Hamka, ilmu dan akal diperuntukkan manusia untuk mengenai Tuhannya “Penemuan-penemuan sains yang baru telah menolong kita untuk memahami kebenaran ayat Al-Qur’an dan melihat keagungan-Nya.”

Semoga bermanfaat dan menambah semangat juang…

Follow kami !

Facebook: @tipsberkah.tb
Instagram: @tipsberkah.tb
Twitter: @BerkahTips

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *